Minggu, 09 Mei 2010

KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH RAWATIB DAN KETERANGAN BILANGANNYA

Sholat Rawatib artinya; Sholat-sholat yang mengiringi sholat-sholat fardhu. Baik itu yang dilakukan sebelum sholat fardhu maupun sesudahnya.
Sholat Rawatib terbagi atas 2, yaitu:
  1. Sholat Qobliah. Asal katanya dari qoblu, artinya sebelum. Qobliah artinya sholat sunnat yang dikerjakan sebelum shalat fardhu.
  2. Sholat Ba'diah. Asal katanya dari ba'da, artinya setelah. Ba'diah artinya sholat sunnat yang dikerjakan sesudah shalat fardhu.
Jumlah seluruh raka'at shalat Qobliah dan Ba'diah ada 22 raka'at:
  • 2 Qobliah Subuh
  • 4 Qobliah Zuhur
  • 4 Ba'diah Zuhur
  • 4 Qobliah Ashar
  • 2 Qobliah Maghrib
  • 2 Ba'diah Maghrib
  • 2 Qobliah Isya
  • 2 Ba'diah Isya'
Dari total 22 raka'at, ada sebahagian yang muakkadah (ditekankan), dan ghairo muakkadah (tidak ditekankan). Para ulama' berbeda pendapat tentang jumlah raka'at pada sholat kobliyah dan ba'diyah yang muakkadah. Dan pendapat yang paling rajih (kuat) insya Allah adalah yang mengatakan 12 raka'at =Syarah Muslim, Imam An-Nawawi [6/9]=. Berdasarkan hadits berikut:
Dari Ummu Habibah rodhiallohu'anha berkata: Saya mendengar Rasulullah sholollohu 'ailaihi wassalam bersabda: "Barang siapa yang sholat 12 raka'at selain sholat fardhu, maka akan dibangunkan untuknya rumah di surga." (HR. Muslim)

Para ulama' juga berbeda pendapat tentang pengambilan sholat untuk membentuk 12 raka'at. Ada dua pendapat:
A.
2 Qobliah Subuh
4 Qobliah Zuhur
2 Ba'diah Zuhur
2 Ba'diah Maghrib
2 Ba'diah Isya'

B.
2. 2 Qobliah Subuh
2 Qobliyah Zuhur
2 Ba'diah Zuhur
2 Qobliah Ashar
2 Ba'diah Maghrib
2 Ba'diah Isya'

Tapi, insya Allah pendapat yang paling rajih adalah pendapat: A, karena penyebutan jumlah ini secara jelas disebutkan di kebanyakan riwayat. Wallohu'alam =Syarah Muslim, Imam An-Nawawi (6/9)=

CATATAN: Ketika mendengar sebuah berita dari surga yang nama bendanya mirip dengan nama benda yang ada di dunia, ingatlah dengan perkataan Abdullah bin Abbas: "Tidak ada yang di surga itu sesuatu yang sama dengan di dunia melainkan hanya namanya saja." Jadi, apabila disebutkan ada rumah di surga, yakinlah rumah di dunia tidak sama dengan rumah yang ada di surga. Wallohu'alambishsowab

Kamis, 06 Mei 2010

ALLAH DALAM MEMBERIKAN HIDAYAH PADA HAMBA-NYA

Kita sering mendengar perkataan ini: "Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkan dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada satupun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya."
Ya, ini adalah perkataan Rasulullah sholollohu 'alaihi wassalam yang selalu beliau baca pada awal khutbahnya. Banyak yang beranggapan, Ngapain lagi kita susah-susah nyari ilmu, toh Allah yang sudah menyesatkan kita!!

Sekali-kali tidak!! Allah tidak pernah menzholimi hambaNya SEDIKITPUN. "...Dan Tuhan-mu sama sekali tidak menzholimi hamba-hamab-(Nya)." (QS. Fushilat: 46).
Lalu, bagaiman memahaminya??
Berikut penjelasannya:
  • Manusia, memiliki akal dan hati. Dengan adanya akal dan hati, manusia berkemampuan untuk memilih antara jalan yang benar dan jalan yang menyimpang.
  • Seiring dengan kemampuan tersebut, Allah turunkan ketetapan dengan memberi kabar pada manusia dengan perantara Nabi dan Rasul, bahwa ini jalan yang Allah ridhoi dengan balasan seperti ini dan ini, & jalan ini yang dimurkai Allah dengan balasan ini dan ini. Dengan akalnya, maka manusia dapat memilih anatara dua jalan tersebut.
Setelah manusia memilih salah satu dari dua jalan tersebut, maka ada diantara mereka yang memilih golongan keta'atan. Disetiap gerak-geriknya, dia selalu berusaha untuk membuat Robbnya ridho kepadanya. Kemudian, Allah melihatnya dengan keseriusan dalam mencapai ridho Robbnya. Sehingga mereka sampai pada suatu titik dimana Allah memberi "cap" bahwa dia tidak akan tersesat untuk selamanya. "Hati mana saja yang menolak fitnah (penyakit hati), maka akan diberikan kepadanya satu bintik putih..." Apabila hamba tersebut terus melakukan keta'atan, maka Allah akan senatiasa memberi bintik putih di hatinya. "Sehingga hati tersebut akan menjadi putih bersih. Tidak akan memberikan mudhorot kepadanya fitnah apapun selama bumi dan langit masih beraktivitas.."

Dan diantara mereka juga ada yang memilih golongan kemaksiatan. Selama dia melakukan kemaksiatan, Allah akan senantiasa menegur & memperingatkannya agar kembali ke jalan Allah yang lurus. Namun, seiring dengan teguran-teguran tersebut, dia tetap tidak mau untuk kembali ke jalan yang benar, sehingga dia sampai pada suatu titik, dimana Allah "mengecapnya" sebagai orang yang sesat untuk selama-lamanya. "Hati mana saja yang menyerap fitnah tersebut, maka akan diberikan kepadanya satu bintik hitam..." Apabila dia terus saja melakukan kemaksiatan, maka seiring dengan kemaksiatan tersebut Allah akan selalu memberikan hatinya bintik hitam. "Sehingga hati tersebut menjadi hitam legam. Hati ini bagaikan sebuah gelas yang tertelungkup. Dia tidak tau lagi mana yang baik, dan mana yang buruk. Yang dia tau hanyalah hawa nafsu yang selalu memerintahkan hatinya." (HR. Muslim dari Hudzaifah bin Yaman).
Maksud dari gelas yang tertekungkup adalah Allah kunci mati hatinya, sehingga nasihat atau hidayah tidak bisa masuk ke dalam hatinya, dan dia tidak bisa lagi menerima kebenaran. "Allah telah Mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat adzab yang berat." (QS. Al-Baqarah: 7)
Semoga Allah melindungi kita dari matinya hati kita, dan memberikan kelembutan hati kepada kita, sehingga kita bisa menerima hidayah dariNya. Amin
Allahu'alam bishsowab

Pembimbing: Ustd. Maududi Abdullah, Lc